Di antara riuh hari yang tak pernah benar-benar sunyi,
aku berjalan seperti bayang kehilangan tubuhnya sendiri.
Tersenyum di hadapan dunia,
namun di dalam dada...
ada ruang yang entah sejak kapan menjadi begitu sepi.
Ya Allah,
akhir-akhir ini aku seperti asing pada jalan pulang.
Langkahku tetap menuju sajadah,
namun hati tertinggal di tempat yang tak kutahu arah.
Bibirku melafal doa,
tetapi jiwaku terasa jauh,
seakan langit tak lagi sedekat dulu.
Sholatku berdiri seperti rutinitas,
gerak yang hafal tanpa getar,
ruku’ yang kehilangan tunduk,
sujud yang tak lagi basah oleh rindu.
Aku melaksanakannya
hanya karena tahu itu kewajiban,
bukan karena hati berlari ingin bertemu-Mu.
Dan anehnya,
di tengah ramai manusia,
aku justru merasa kosong.
Seperti rumah yang lampunya menyala,
namun tak lagi dihuni kehangatan.
Ada yang hilang dari dadaku,
namun aku takut mengaku
bahwa mungkin itu adalah rasa dekat dengan-Mu.
Ya Rabb,
jika benar aku menjauh,
barangkali bukan karena aku tak ingin kembali,
melainkan karena aku terlalu lelah
dan lupa bagaimana cara mengetuk pintu-Mu lagi.
Aku rindu menjadi seseorang
yang menangis hanya karena menyebut nama-Mu,
yang menemukan tenang di antara ayat-ayat,
yang percaya bahwa setelah segala sesak,
selalu ada pelukan-Mu yang tak terlihat.
Maka jika malam ini Engkau masih berkenan mendengar,
terimalah hati yang datang dengan retak-retaknya.
Aku tak membawa iman yang sempurna,
tak juga khusyuk yang utuh,
hanya seorang hamba
yang diam-diam takut kehilangan-Mu sepenuhnya.
Sebab sejauh apa pun aku melangkah,
aku tahu...
tak ada tempat pulang yang lebih teduh
selain kepada-Mu.
Dan bila esok aku masih terasa kosong,
tolong jangan biarkan aku terbiasa.
Panggil aku kembali, Ya Allah,
meski dengan cara paling sederhana:
rasa rindu yang pelan-pelan tumbuh
di dalam sujudku.
16052026
0 Komentar